Kebodohan adalah nama perang (permainan) ini.
Gue yang saat itu
masih kelas 3 SMP dan lagi duduk manis ngerjain cinderamata (tugas) dari guru
gue yang lenyap entah kemana, tiba-tiba terkagetkan dengan pengelihatan gue
tiba-tiba hilang gelap gulita. Gue langsung berpikir ada dua kemungkinan untuk
kejadian ini 1) lampu mati 2) mata gue merem. Tapi gue gak bodoh, karena itu masih siang jadi kalau
lampu mati masih terang. Dan melek merem rasanya sama saja. Ternyata itu
kepala gue yang ditutupi sarung oleh teman gue “Anjrit padahal tadi gue mau
manfaatin kegelapan ini untuk nggerepe teman gue.” Gue langsung merasakan
pukulan bertubi-tubi tangan-tangan banyak dosa kekepala gue, rasanya seperti pakai helm yang banyak
krikilnya.
“Kampret” kata gue
setengah gak sadar
“MUAHAHAHAHAHA”
ketawa teman-teman gue yang terdengar seperti orang kepedesan
Dengan rasa amat
kesal gue langsung mengajak mereka perang dan gue mengambil sarung dari tas
gue. Kita bermain soloist dengan skill bertarung masing-masing. Mungkin perang
ini gak boleh dilakukan karena memukul kepala itu dapat mengakibatkan ketombe
pindah ketangan sipemukul.
Beberapa menit gue
langsung dapet 5 kepala yang sudah gue kasih cap tangan.
Gue ngelihatin
teman gue Eric yang lagi ngicer kepala temen gue Firman. Pas si-Eric masukin
kepala si-Firman, disaat yang bersamaan, Adam (temen gue yang lain) langsung
masukin kepala Eric ke sarungnya dan mereka pun pukul-pukulan kepala. Gila,
pemandangan itu seperti keluarga kera yang nyariin kutu buat saudaranya.
Kelas gue semakin
memanas. Gue melihat ada teman yang sampai kejang-kejang keluar busanya (sorry
itu bohong). Gue berpikir, kalau nilai pelajaran gue jelek dan gue dianggap
bodoh oleh nyokap, maka merekalah yang gue salain. Dan gue berharap kalau perang
ini segera berakhir. Gk kebayang kan kalau kegiatan ini dilakukan selama
berjam-jam, besoknya di Koran tertulis ’17 orang siswa tewas karena perang
pukul kepala seharian.’