Minggu, 21 April 2013

Hari Menjelang Gila


Kebodohan adalah nama perang (permainan) ini.


Gue yang saat itu masih kelas 3 SMP dan lagi duduk manis ngerjain cinderamata (tugas) dari guru gue yang lenyap entah kemana, tiba-tiba terkagetkan dengan pengelihatan gue tiba-tiba hilang gelap gulita. Gue langsung berpikir ada dua kemungkinan untuk kejadian ini 1) lampu mati 2) mata gue merem. Tapi gue  gak bodoh, karena itu masih siang jadi kalau lampu mati masih terang. Dan melek merem rasanya sama saja. Ternyata itu kepala gue yang ditutupi sarung oleh teman gue “Anjrit padahal tadi gue mau manfaatin kegelapan ini untuk nggerepe teman gue.” Gue langsung merasakan pukulan bertubi-tubi tangan-tangan banyak dosa kekepala gue, rasanya seperti pakai helm yang banyak krikilnya.

“Kampret” kata gue setengah gak sadar
“MUAHAHAHAHAHA” ketawa teman-teman gue yang terdengar seperti orang kepedesan

Dengan rasa amat kesal gue langsung mengajak mereka perang dan gue mengambil sarung dari tas gue. Kita bermain soloist dengan skill bertarung masing-masing. Mungkin perang ini gak boleh dilakukan karena memukul kepala itu dapat mengakibatkan ketombe pindah ketangan sipemukul.

Beberapa menit gue langsung dapet 5 kepala yang sudah gue kasih cap tangan.

Gue ngelihatin teman gue Eric yang lagi ngicer kepala temen gue Firman. Pas si-Eric masukin kepala si-Firman, disaat yang bersamaan, Adam (temen gue yang lain) langsung masukin kepala Eric ke sarungnya dan mereka pun pukul-pukulan kepala. Gila, pemandangan itu seperti keluarga kera yang nyariin kutu buat saudaranya.

Kelas gue semakin memanas. Gue melihat ada teman yang sampai kejang-kejang keluar busanya (sorry itu bohong). Gue berpikir, kalau nilai pelajaran gue jelek dan gue dianggap bodoh oleh nyokap, maka merekalah yang gue salain. Dan gue berharap kalau perang ini segera berakhir. Gk kebayang kan kalau kegiatan ini dilakukan selama berjam-jam, besoknya di Koran tertulis ’17 orang siswa tewas karena perang pukul kepala seharian.’

Untung do’a gue terkabulkan dengan datangnya guru gue yang masih normal dan gak ikut-ikutan dalam perang ini. Teman-teman gue yang capek sekaligus cengegesan banyak-banyakan kepala yang mereka pukul, akhirnya berhenti dari perang. Dan hari itu pun gue sebut dengan Hari Menjelang Gila.